Selasa, 12 Juni 2012

Makalah Pertolongan Pada Cedera Olahraga Lempar Cakram

BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah
Lempar cakram adalah salah satu cabang atletik pada nomor lempar. Lempar cakram sudah dikenal mulai zaman purba oleh bangsa Yunani purba 708 SM, lempar cakram merupakan bagian dari pancalomba (pentathlon). Pada permulaannya, Cakram yang digunakan pada zaman purba dibuat dari batu terupam halus, kemudian dari perunggu yang dicor dan ditempa dengan berat antara 3 sampai 9 ponds (3,06 – 4,08 kg). Cara melakukan lemparan yang pada mulanya menirukan gaya nelayan yang melempar jaring berulang-ulang. Kemudian, ditemukan lemparan dengan sikap badan menyiku secara khusus dengan badan agak bersandar ke depan.

B.    Rumusan Masalah
1.    Apa pengertian lempar cakram?
2.    Apa saja teknik dsasar lempar cakram?
3.    Cidera apa saja yang terjadi?

C.    Tujuan Makalah
Makalah ini di susun dengan tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan:
1.    Mengetahui pengertian lempar cakram.
2.    Mengetahuii bagaimana teknik-teknik dasar lempar cakram.
3.    Mengetahui bagaimana meminimalisir cidera yang akan terjadi
4.    Mengetahui bagaimana cara mengobata cedera yang terjadi.



D.    Kegunaan Makalah
Kegunaan makalah ini bagi penulis yakni sebagai sumber ilmu pengetahuan dan menambah wawasan dalam konsep keilmuan.
E.    Prosedur makalah
Dalam pennyusunan dan pembuatan makalah ini dengan cara pengumpulan data dari pelajaran sekolah dan dengan menggunakan metode pustaka.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian

Lempar cakram adalah salah satu cabang atletik pada nomor lempar. Pada acara sejak tahun 708 SM, lempar cakram merupakan bagian dari pancalomba (pentathlon). Pada permulaannya, cakram terbuat dari batu terupam halus, kemudian dari perunggu yang dicor dan ditempa. Cara melakukan lemparan yang pada mulanya menirukan gaya nelayan yang melempar jaring berulang-ulang. Kemudian, ditemukan lemparan dengan sikap badan menyiku secara khusus dengan badan agak bersandar ke depan
Dalam Olympiade modern yang mulai diselenggarakan pada tahun 1896, nomor lempar cakram merupakan nomor lempar yang harus ada dalam setiap perlombaan atletik. Perlombaan lempar cakram untuk wanita baru mulai pada Olympiade IX tahun 1928 di Amsterdam. Cakram yang digunakan dalam perlombaan dibuat dari kayu berbingkai besi (logam). Berat cakram yang telah dibakukan (standart) untuk perlombaan bagi peserta wanita adalah 1 kg bagi peserta pria 2 kg. ukuran cakram


B.    Teknik-teknik Lempar Cakram
1.      Cara memegang cakram
Cara memegang cakram tergantung dari lebarnya tangan dan panjangnya jari-jari. Beberapa cara memegang cakram yang banyak digunakan antara lain:

a.    Bagi yang tangannya cukup lebar, cara memegang cakram dengan meletakkan tepi cakram pada lekuk pertama dari jari-jarinya. Jari-jari sedikit renggang dengan jarak yang sama antara jari satu dengan lainnya. Cakram melekat pada telapak tangan tepat pada titik berat cakram atau sedikit di belakangnya. Makin panjang jari-jarinya, makin mudah memegang cakram dan cakram dapat dipegang erat-erat.

b.    Cara lain bagi yang memiliki tangan yang lebar adalah sebagai berikut: jari tengah dan jari telunjuk berhimpit dan jari-jari lainnya agak renggang. Jika pada cara yang pertama pengerahan tekanan pada jari-jari yang terbagi sama, pada cara kedua ini tekanan diutamakan pada jari-jari yang berhimpitan tadi. Tekanan pada jari-jari ini yang mengatur putaran cakram sewaktu lepas     dari tangan.

c.    Bagi yang jari-jarinya pendek cara memegang cakram dilakukan sebagai berikut: posisi jari-jari sama dengan cara yang pertama, hanya letak tepi cakram lebih ke ujung jari-jari. Dengan sendirinya pegangan pada cakram tidak terlalu erat. Telapak tangan berarti berada di tengah-tengah cakram.
Ada 3 tahap dalam melempar cakram:

1.    Persiapan
  • Berdiri dengan kedua kaki dibuka lebar
  • Pegang cakram dengan tangan kanan. Ayunkan sampai di atas bahu sambil memutar badan ke kiri, kemudian ke kanan secara berulang-ulang. Saat cakram diayun ke kiri, bantu tangan kiri dengan cara menyangganya.
2.    Pelaksanaan 
  • Ayunkan cakram ke depan lalu ke belakang
  • Pada saat cakram di belakang, putar badan dan ayunkan cakram ke samping-depan-atas (membentuk sudut 40 drajat )
  • Lepaskan cakram pada saat berada di depan muka
3.    Penutup
  • Bantu lemparan dengan kaki kanan agar tercipta suatu tolakan kuat pada tanah sehingga badan melonjak ke depan-atas
  • Langkahkan kaki kanan ke depan untuk menumpu, sedangkan kaki kiri diangkat rileks untuk menjaga keseimbangan badan.
C.    Cedera yang Terjadi
        Cedera sering dialami oleh seorang atlit, seperti cedera goresan, robek pada ligamen, atau patah tulang karena terjatuh. Cedera tersebut biasanya memerlukan pertolongan yang profesional dengan segera. Banyak sekali permasalahan yang dialami oleh atlit olahraga, tidak terkecuali dengan sindrom ini. Sindrom ini bermula dari adanya suatu kekuatan abnormal dalam level yang rendah atau ringan, namun berlangsung secara berulang-ulang dalam jangka waktu lama. Jenis cedera ini terkadang memberikan respon yang baik bagi pengobatan sendiri.
      Tak ada yang menyangkal jika olahraga baik untuk kebugaran tubuh dan melindungi kita dari berbagai penyakit. Namun, berolahraga secara berlebihan dan mengabaikan aturan berolahraga yang benar, malah mendatangkan cedera yang membahayakan dirinya sendiri.

Contoh cedera pada olahraga atletik lempar cakram: 
  1. Cedera pada pergelangan kaki (ccedera angkle)
Cedera ini dapat terjadi misalnya karena terkilir pada saat berputar / memutar badan.
  • Pencegahan:
Perkuat pergelangan kaki dengan naik turun tangga atau olahraga sejenisnya. Memakai pelindung kaki tidak menjamin keselamatan, tapi meminimalkan risiko.
  • Pengobatan :
Teknik pengobatan untuk cedera ringan :
  1. Cubit tekan kuku dan sendi jari kaki yang terserang, ulangi 2-3 kali.
  2. Rangsang ringan dan totok garis rangsang kaki bagian depan.
  3. Menekan dan meremas bersama titik-titik selama 3-5 menit
  4. Taruh jempol pada titik 8 : bawah mata kaki luar, dan jari-jari lain pada titik 4: Bawah mata kaki dalam, cengkram jari kaki dengan tangan lain. Pasien menekuk lutut, kemudian tarik kaki dengan kedua tangan, ulangi 2-3 kali sampai terdengar suara. Tekan punggung kaki untuk hentikan rasa sakit.
  5. Letak jempol pada titik 9 : 8 jempol diatas mata kaki/pergelangan kaki, Dorong ke bawah sampai titik 10 : tengah pergelangan kaki, tekan titik 10 selama 30-60 detik, ulangi 3-5 kali.
  6. Letakkan kepalan tangan pada titik 9, dorong kearah punggung kaki, ulangi 5-10 kali.
  7. Letakkan jempol pada titik 11, tekan dan putar titik 11: lekukan depan mata kaki luar.
  8. Letakan jempol pada titik 8, dorong jempol sampai jari kelingking kaki, kemudian kelingking dibengkokan, ulangi gerakan 2 – 5 kali.
  9. Letakan 4 jari pada pergelangan kaki, jempol tangan yang lain pada titik 10 diremas 4 jari menyisir ke bawah sampai jari-jari kaki, ulangi gerakan selama 1 menit
  10. Letakan kedua jempol tangan pada titik 12 : tengah perut betis, tekan ke bawah sampai tendon Achilles, tekan tendon kuat-kuat selama 10-30 menit. Lalu lanjutkan menekan sepanjang telapak kaki sampai titik 13 (pada 1/3 bagian atas telapak kaki).
  11. Ulangi prosedur d, tetapi kali ini diputar searah jarum jam dan berlawanan jarum jam, sambil meremas titik-titik. Ulangi 10-30 kali untuk setiap arah.

2.    Cedera pada pergelangan tangan

Cedera ini dapat terjadi misalnya karena salah teknik saat melempar cakram,


3.    Cedera pada jari-jari tangan

Cedera ini dapat terjadi karena kesalahan saat memegang cakram.

4.    Cedera lutut
Sekitar 55 persen cedera akibat aktivitas olahraga berupa cedera lutut. Cedera ini termasuk satu dari 40 kasus bedah ortopedi. Terbanyak terjadi pada sendi dan tulang rawan (retak), termasuk sakit dan nyeri yang terkait dengan tempurung lutut. Risiko tinggi terjadi pada pelari, perenang, step aerobic, pesepakbola, pebasket, pevoli, dan atlet cabang atletik. Ini karena lutut menjadi tumpuan, sehingga berpotensi terkena arthritis.
  • Pencegahan:
Kenakan sepatu khusus dengan sol lembut dan ganti sol secara teratur. Pilih sepatu sesuai jenis olahraga dan mampu menopang berat tubuh. Istirahatkan kaki dalam jangka tertentu (minimal 2 x 24 jam) untuk mencegah beban berlebihan pada anggota tubuh. Jika lutut cedera, kompres es selama 20 menit untuk     menghindari peradangan.
Anda dapat mengurangi kesempatan dan keparahan cedera lutut :
-    pemanasan dan pendinginan sebelum dan sesudah berolahraga.
-    tingkatkan program latihan anda secara bertahap dengan menambah frekuensi, durasi dan intensitas, tapi jangan melampaui batas nyeri.
-    rawatlah kesehatan secara general dan perkuat tubuh bagian bawah dan flexibilitas (terutama calf, quadricep dan hamstring).
-    berlatih berdiri dengan satu kaki untuk meningkatkan keseimbangan anda dan kekuatan otot tungkai.

5.    Cedera bahu
Sebanyak 20 persen cedera karena olahraga terjadi pada bahu, termasuk akibat salah posisi, salah urat, dan ketegangan otot. Olahraga yang rentan menimbulkan cedera ini yaitu tenis, renang, angkat beban, bisbol, dan voli. Penyebabnya, aktivitas berlebih dan gerakan yang salah di daerah bahu sehingga mengenai tendon (urat). Gejalanya nyeri, kaku pada bahu, otot terkilir,hingga tulang     retak.
  • Pencegahan:
Untuk olahraga yang rentan benturan (misalnya bisbol) gunakan pelindung khusus.
  • Pengobatan :
Secara umum, pemulihan cedera pada sendi bahu memerlukan waktu. Untuk mempercepat waktu pemulihan agar Anda dapat berlatih kembali, gunakan formula RICE (Rest atau istirahat; Ice atau kompres dengan es; Compression atau beri tekanan dengan menggunakan membalutnya dengan perban khusus; dan Elevation atau tinggikan bagian yang mengalami cedera). Penyembuhan jaringan lunak, seperti bahu, seringkali membutuhkan waktu antara 4 hingga 6 minggu
Dari semua cidera di atas dapat di lakukan Penanganan Pertolongan Pertama
Prinsip utama penanganan adalah RICE:

R : Rest/istirahat. 
Segera berhenti melakukan segala aktivitas. Aktivitas yang berlebih pada bagian tubuh yg terkena akan memicu terjadinya komplikasi lebih lanjut, misal ligamen yang robek akan semakin parah.

I : Ice/es.
Ingat bukan kompres hangat atau bahkan panas! saat cedera baru berlangsung (24 jam setelah cedera), akan terjadi robekan pembuluh darah yang berakibat keluarnya “isi” pembuluh darah tersebut ke jaringan sekitar nya sehingga bengkak, pembuluh darah sekitar tempat cedera juga akan melebar (dilatasi) sebagai respon peradangan. Pemberian kompres dingin/es akan menyempitkan pembuluh darah yg melebar sehingga mengurangi bengkak, sebaliknya hangat/panas malah akan menambah lebar pembuluh darah! Kompres dingin bisa dilakukan 1-2 kali sehari, jangan lebih dari 20 menit karena justru kan mengganggu sirkulasi darah.
Sebaliknya, saat cedera sudah lama/kronik (± 1-2 minggu), tanda2 peradangan seperti bengkak, warna merah, nyeri hebat sudah hilang, maka prinsip pemberian kompres hangat bisa dilakukan

C : Compression.
Penekanan pada bagian cedera, bisa dilakukan dengan perban/dibalut. Jangan terlalu erat, tujuannya untuk mengurangi pembengkakan.

E : elevation.
Sering-sering istirahat dengan diangkat, dengan diganjal setinggi melewati jantung. Tujuannya untuk mengurangi pembengkakan

Cedera olahraga jika tidak ditangani dengan cepat dan benar dapat mengakibatkan gangguan atau  keterbatasan fisik, baik dalam melakukan aktivitas hidup sehari-hari maupun melakukan aktivitas olahraga yang bersangkutan. Bahkan bagi atlit cedera ini bisa berarti istirahat yang cukup lama dan mungkin harus meninggalkan sama sekali hobi dan profesinya. Oleh sebab itu dalam penaganan cedera olahraga harus dilakukan secara tim yang multidisipliner.
Cedera olahraga dapat digolongkan 2 kelompok besar :

1.    Kelompok kerusakan traumatik (traumatic disruption) seperti : lecet, lepuh, memar, leban otot, luka, “stram” otot, “sprain” sendi, dislokasi sendi, patah tulang, trauma kepala-leher-tulang belakang, trauma tulang pinggul, trauma pada dada, trauma pada perut, cedera anggota gerak atas dan bawah.
2.    Kelompok “sindroma penggunaan berlebihan” (over use syndromes), yang lebih spesifik yang berhubungan dengan jenis olahraganya, seperti : tenis elbow, golfer’s elbow swimer’s shoulder, jumper’s knee, stress fracture pada tungkai dan kaki.

BAB III
SIMPULAN DAN SARAN


A.    SIMPULAN
Cedera adalah suatu akibat daripada gaya-gaya yang bekerja pada tubuh atau sebagian daripada tubuh dimana melampaui kemampuan tubuh untuk mengatasinya, gaya-gaya ini bisa berlangsung dengan cepat atau jangka lama.
Dapat dipertegas bahwa hasil suatu tenaga atau kekuatan yang berlebihan dilimpahkan pada tubuh atau sebagian tubuh sehingga tubuh atau bagian tubuh tersebut tidak dapat menahan dan tidak dapat menyesuaikan diri.
Harus diingat bahwa setiap orang dapat terkena celaka yang bukan karena kegiatan olahraga, biarpun kita telah berhati-hati tetapi masih juga celaka, tetapibila kita berhati-hati kita akan bisa mengurangi resiko celaka tersebut.

B.    SARAN
Pada saat akan melakukan aktifitas fisik / olahraga di sarankan harus melakukan pemanasan terlebih dahulu baik pemanasan dinamis ataupun pemanasan ststis, untuk memperkecil resiko terkena cidera saat melakukan olahraga,
Cidera bisa juga terjadi pada saat pemanasan maka dari itu lakukanlah pemanasan dengan baik dan tertib.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar